Tanjabtim Masih Jadi Perhatian Satgas Karhutla, Perkuat Pemadaman Darat dan Udara

Rabu, 28 Oktober 2026

Gemilangpos.com, Jambi – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi masih menjadi perhatian serius. Hingga 26 Oktober 2026, estimasi total luas lahan yang terbakar sejak awal tahun mencapai sekitar 5.106,29 hektar. Kabupaten Tanjung Jabung Timur menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam upaya penanganan kebakaran.

Data Satgas Karhutla Provinsi Jambi mencatat, kebakaran tersebar di sejumlah kabupaten dan kota. Batanghari mencatat estimasi luas terbakar 1.470,70 hektar, disusul Sarolangun 958,25 hektar, Tanjung Jabung Timur 810,57 hektar, Tanjung Jabung Barat 674,75 hektar, dan Muaro Jambi 635,02 hektar.

Sementara itu, kebakaran juga tercatat di Tebo, Bungo, Merangin, dan Kota Jambi. Adapun Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh belum mencatat luasan lahan terbakar dalam rekapitulasi tersebut.

Juru bicara (Jubir) karhutla Provinsi Jambi l, Johansyah menjelaskan, berdasarkan laporan penanganan per 26 Oktober 2026, sejumlah titik kebakaran di Kabupaten Tanjung Jabung Timur masih membutuhkan penanganan melalui pemadaman maupun pendinginan. khususnya di kawasan Taman Nasional Berbak Sembilang (TNBS).

"Di Kecamatan Berbak, kita mendaptkan laporan dari tim satgas kebakaran terjadi di Desa Sungai Rambut. Petugas melakukan penanganan dengan estimasi area berasap sekitar 2 hektar dan pendinginan sekitar 1 hektar," jelas Johansyah.

Dikatakan Johansyah, Laporan juga mencatat kebakaran di Desa Sungai Benih, Kecamatan Sadu, serta sejumlah lokasi di Desa Labuan Pering dan Rantau Rasau.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada memadamkan api, tetapi juga memastikan bara yang tersisa tidak kembali menyala.

Salah satu tantangan dalam penanganan karhutla adalah keterbatasan sumber air akibat turunnya tinggi muka air tanah di sejumlah daerah rawan kebakaran.

Kondisi ini dapat menyulitkan petugas ketika melakukan pemadaman, terutama pada wilayah yang sulit dijangkau kendaraan darat dan memiliki akses sumber air terbatas.

“Penanganan karhutla membutuhkan kerja sama seluruh unsur, baik petugas di lapangan maupun masyarakat. Salah satu kendala yang dihadapi adalah keterbatasan sumber air di sejumlah wilayah. Karena itu, upaya pemadaman dan pendinginan terus dilakukan sesuai kondisi serta kebutuhan di lapangan.” katanya.

Selain melakukan pemadaman, petugas juga menjalankan patroli terpadu, pengecekan titik panas, sosialisasi kepada masyarakat, dan pembuatan sekat bakar untuk menghambat perambatan api.

Selain penanganan melalui jalur darat, Satgas Karhutla Provinsi Jambi memperkuat pemantauan dan pemadaman melalui dukungan armada udara.

Laporan kegiatan mencatat helikopter water bombing telah melakukan 20 kali pengeboman air dengan total sekitar 80.000 liter.

Operasi tersebut diarahkan untuk membantu penanganan kebakaran di wilayah Jebus, Kecamatan Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi. Berdasarkan laporan, area terbakar diperkirakan sekitar lima hektar, dengan area yang berhasil dipadamkan sekitar 1,5 hektar.

Namun, operasi udara menghadapi tantangan berupa asap tebal yang memengaruhi pelaksanaan penerbangan. Kondisi ini membuat efektivitas pemadaman sangat bergantung pada situasi cuaca dan keselamatan penerbangan.

Sementara itu, helikopter patroli dan unsur udara lainnya turut mendukung pemantauan titik panas serta penyampaian informasi kepada petugas di lapangan.

“Dukungan armada udara sangat membantu, terutama untuk menjangkau lokasi yang sulit diakses melalui jalur darat. Namun, pelaksanaannya tetap memperhatikan kondisi cuaca, jarak pandang, dan aspek keselamatan. Koordinasi antara petugas darat dan udara menjadi bagian penting dalam mempercepat penanganan.” ungkap Johansyah.

Berdasarkan data hotspot harian untuk 25 Oktober 2026, terdeteksi sembilan titik panas di Provinsi Jambi. Sebanyak delapan titik berada di Kabupaten Tanjung Jabung Timur dan satu titik di Kabupaten Tebo.

Adapun akumulasi hotspot sepanjang 1 Januari hingga 25 Oktober 2026 mencapai 18.398 titik berdasarkan pemantauan satelit Aqua, Terra, dan Suomi.

Angka hotspot merupakan indikator yang digunakan untuk membantu mendeteksi potensi kebakaran. Karena itu, keberadaan titik panas perlu ditindaklanjuti melalui verifikasi lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya.

Di sisi lain, informasi tingkat kemudahan terbakar menunjukkan perubahan kondisi yang perlu diwaspadai. Pada 26 Oktober, sebagian besar wilayah Jambi secara umum berada dalam kategori aman, meskipun sejumlah kabupaten masuk kategori mudah hingga sangat mudah terbakar.

Sementara itu, untuk 27 Oktober, sebagian besar wilayah Tanjung Jabung Timur dan Merangin dilaporkan berada pada kategori aman hingga tidak mudah terbakar. Meski demikian, kondisi tersebut tidak berarti risiko kebakaran sepenuhnya hilang.

Prakiraan cuaca BMKG Jambi untuk 26–27 Oktober juga menyebutkan potensi hujan ringan hingga sedang yang disertai petir atau kilat di sebagian besar wilayah provinsi.

Masyarakat Diminta Tidak Membuka Lahan dengan Cara Membakar

Satgas Karhutla Provinsi Jambi terus mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Langkah pencegahan dinilai penting untuk mengurangi risiko munculnya titik api baru, terutama ketika kondisi lahan dan cuaca mendukung terjadinya kebakaran.

Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan asap atau titik api di sekitar permukiman, perkebunan, maupun kawasan hutan.

“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama mencegah karhutla. Jangan membuka lahan dengan cara membakar. Jika menemukan titik api atau kepulan asap, segera laporkan kepada petugas agar bisa ditangani sedini mungkin sebelum kebakaran meluas.” ajak jubir karhutla Jambi.