Logo GemilangPos.com

Hotspot Bukan Kebakaran: Akademisi UIN Jambi Luruskan Kesalahan Persepsi Publik soal Karhutla

Hotspot Bukan Kebakaran: Akademisi UIN Jambi Luruskan Kesalahan Persepsi Publik soal Karhutla

Gemilangpos.com, Jambi – Munculnya ratusan bahkan ribuan hotspot di peta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kerap memunculkan anggapan bahwa seluruh titik tersebut adalah kebakaran yang sedang terjadi. Padahal, pemahaman itu dinilai keliru dan dapat menyesatkan persepsi publik.

Akademisi UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Yulfi Alfikri Noer, S.IP., M.AP, menegaskan bahwa hotspot bukanlah kebakaran, melainkan indikasi awal adanya anomali panas yang terdeteksi sensor satelit dan masih harus diverifikasi.

Menurut Yulfi, sensor satelit seperti VIIRS dan MODIS yang digunakan BMKG hanya mendeteksi perbedaan suhu panas pada waktu tertentu saat satelit melintas. Karena itu, hotspot tidak merekam seluruh kejadian kebakaran secara terus-menerus dan tidak bisa langsung dianggap sebagai kebakaran yang telah dipastikan terjadi.

“Hotspot adalah sinyal awal yang menunjukkan lokasi yang perlu mendapat perhatian. Untuk memastikan apakah benar terjadi kebakaran, dibutuhkan analisis lanjutan dan pemeriksaan di lapangan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, jumlah hotspot juga tidak bisa dijadikan ukuran luas lahan yang terbakar. Satu titik panas belum tentu mewakili satu kejadian kebakaran, sementara wilayah tanpa hotspot bukan berarti bebas dari sumber panas karena deteksi satelit dipengaruhi tutupan awan, waktu lintasan satelit, hingga kemampuan sensor.

Yulfi menambahkan, sistem SiPongi milik Kementerian Kehutanan bahkan mengelompokkan hotspot berdasarkan tingkat kepercayaan, yakni hijau (rendah), kuning (sedang), dan merah (tinggi). Artinya, setiap titik memiliki tingkat keyakinan yang berbeda dan harus dibaca dalam konteks lokasi, waktu, kondisi cuaca, serta karakteristik lahan.

BMKG juga memperkuat pemantauan melalui Himawari-9 Geohotspot, yang dipadukan dengan citra satelit untuk mendeteksi potensi asap dan kondisi atmosfer. Kombinasi berbagai data tersebut membantu pemerintah menentukan wilayah prioritas pemantauan sebelum melakukan verifikasi lapangan.

Yulfi mengingatkan bahwa kesalahan paling umum dalam membaca hotspot adalah menganggap setiap titik sebagai kebakaran, menyamakan jumlah hotspot dengan luas lahan terbakar, dan menjadikannya bukti tunggal penyebab kebakaran.

“Teknologi satelit sangat penting untuk deteksi dini, tetapi kemampuan mendeteksi tidak sama dengan kemampuan menyimpulkan,” tegasnya.

Ia menilai literasi mengenai hotspot menjadi bagian penting dalam pengendalian karhutla. Pemahaman yang benar akan membantu masyarakat membaca risiko secara tepat, sekaligus mendukung pemerintah dalam menetapkan prioritas pemantauan, verifikasi, dan kebijakan penanganan karhutla secara lebih akurat.

"Hotspot bukan kebakaran. Hotspot adalah sinyal awal yang harus dibaca dalam konteks, diuji dengan data lain, dan diverifikasi di lapangan sebelum menjadi sebuah kesimpulan,” pungkas Yulfi.

Berita Pilihan

Index

Berita Lainnya

Index